Saturday, 6 April 2013

Terlambat

 
model: Mutiara Ramadhani

"Menarilah di waktu-waktu petang beranjak datang, dan biarkan sesekali kulitmu kebingungan memantulkan warna langit dan terjebak di antara jinga megah yang kemerahan. Kemudian berjalanlah dan jangan menyandarkan kakimu pada keraguan. Aku akan tetap di sini sampai senja jingga itu berangsur menggelap. Datang saja bawa keyakinanmu. Jangan terlambat karena kau sudah teramat telat."

Itu menjadi kalimatmu yang mempercepatku bergegas membungkus keyakinan yang kamu anggap telat. Memang telat ketika hatimu telah merapat. Memang telat dan terlalu memalukan untuk masih saja berharap. Namun kamu tetap kamu. Membagi harapan yang berujung pada terka yang melangitkan prasangka. Sudah sekian lama aku berkutat pada pusaran yang sama tanpa jelas arah.

Kini aku di ujung pengharapan sementara kamu masih membuka hati untuk menyediakan penantian. Walau sebentar, penantian tetaplah penantian. Meski entah apa yang akan kita dapat dari pertemuan di seberang penantian ini. Bukankah segalanya sudah pasti, kamu telah dimiliki dan aku sudah terlambat untuk bertanya lagi?

Senja dan malam mungkin waktu yang singkat dan rapat, tapi menjadi terlalu dekat ketika hujan merangkul erat. Aku bisa saja menembus tirai air langit ini demi menghampirimu tapi apalah perlunya jika aku hanya akan menjemput basa-basi penolakan dan pernyataan menyalahkanku yang butuh lama untuk mengikatmu. Ucapanmu yang malah akan membuatku bertambah gerah. Kamu sendiri yang mengungkit ini lagi saat semua sudah terkunci dalam-dalam meski tak pernah mati.

Hujan turun saja terus begitu, di dalam diri ragu berkutat melulu. Antara ingin mengejar dan perasaan terlanjur terkapar menampar-nampar sosok yang belum sepenuhnya sadar. Seharusnya ini masalah muda, lupakan dan tutup pintu untuk celah apapun yang kau buka. Cukup.

Tapi tidak pernah benar-benar semudah itu. Kaki ini memang sudah malas menghampiri tapi ada ruang yang jauh di dalam yang masih sepi dan hanya akan terisi dengan hadirmu. Ini mulai memuakkan, aku tak mau jatuh sedalam ini. Aku tidak mau berkata jujur seterlambat ini.

aku putuskan untuk menyerah ketika malam datang di tengah hujan yang masih berenda. Ini petunjuk Tuhan. Aku meyakini Tuhan memang tak ingin kita melanjutkan rasa. Hujan tak juga henti, oleh malam petang dihabisi, dan kamu di sana pasti sudah pergi. Aku terlambat, dan memang tidak sepantasnya berharap lebih nekat. Cukup.

***

22.00

Hujan akhirnya reda, kamu akhirnya kalah. Kamu takut bertaruh hanya karena keterlambatanmu padahal aku bertaruh dengan pendirianku. Kamu memang terlambat, tapi aku masih menunggu kamu berbuat nekat. Hingga malam meninggi, meski aku sudah tak seharusnya di sini, masih ada ruang yang diam-diam sepi dan hanya bisa terisi oleh hadirmu. Hadirmu yang kalah oleh waktu dan keberanianmu. Kini semua cukup. aku akan kembali pada hidupku dengan yang lain. Yang datang lebih cepat darimu. Dirimu yang sejak dulu tidak pernah berani jujur telah kalah oleh orang yang tak takut menegur.

Kamu kalah bukan oleh keterlambatanmu, kamu kalah karena kamu pengecut.

*) we're here, just in case you don't know what you're reading now   

No comments:

Post a Comment