Saturday, 6 April 2013

Mata Kota

model: Rizka Zahra Tamira


Yang menarik dari matanya adalah ketika terisi lamunan di tiap penjuru liriknya. Seolah mengacak-acak gerik lewat tatapan yang tidak terlalu mengusik. Apapun yang berada di titik tatapnya tidak akan menemukan tempat untuk lari, semua terkunci meski diam-diam dan semakin lama semakin terasa menikmati. Kali ini mata itu menangkap hujan yang deras di luar warung kopi ini. Meresap basah sambil menikmati aroma petrichor yang menyengat dari tanah yang lembab. Di antara itu semua, kita saling mencoba untuk beradaptasi dengan debar dalam diri. Butuh beberapa menit sebelum akhirnya menjadi biasa lagi dan menetralkan diri di tengah gelisah yang menjadi. Sebelum akhirnya sadar jika malam sudah semakin tinggi meski belum ingin juga diakhiri.

“Berapa lama?” tanyanya.

“Lima tahun,” jawabku sambil tertawa.

“Hahaha lima tahun ya.. rasanya baru kemarin,” Ia balas tertawa sambil kemudian meminum kopi di cangkirnya. Ditaruhnya kembali cangkir itu dan kemudian diambil lagi pensilnya. Ia melanjutkan lagi gambar garis-garis kaku itu di kertasnya. Mengukur sana-sini, mencoret lagi, dan terus begitu yang Ia lakukan.

“Iya rasanya baru kemarin, kamu masih sibuk sama perangkat tulismu itu juga ya”

“Iya, bedanya sekarang dibayar tiap ngerjain ini, dulu kan mati-matian biar lulus doang,” ujarmu sambil tersenyum di balik garis-garis yang muncul dari pensilmu, di atas kertasmu. Seperti biasa dalam beberapa jam ke depan, dalam cangkir kopi ke sekian, di atas kertas itu akan tercipta sebuah gambar lanskap yang bagus.

“Yang ini apa?” aku bertanya.

“Taman nih. Untuk perumahan gitu,” kamu menjawab sambil menyeruput lagi cangkir kopimu. 

Kemudian hening mengambil peran seolah membalas hujan yang belum mau turun pelan-pelan. Aku masih menunggu kamu yang tampak tak ingin diganggu. Menunggu kalimat demi kalimat lain mengisi kekosongan yang makin terasa dungu. Seperti dulu kala mula bertemu, kita pun saling menunggu. Aku menunggu datangmu, setelah datangmu ada, aku menunggu namamu. Kemudian setelah namamu ku tahu, aku menunggu waktumu. Waktu untuk dihabiskan sambil aku menghabiskan waktu di kotamu. Namun sayang jarang lagi kita bertemu.

Akhirnya kamu menyerah dengan gambarmu. Kamu masukan semua peralatan itu lagi dan menyeruput kopimu lagi. Belum dapet inspirasi, begitu katamu. Aku merapatkan jaket jeans yang melekat di tubuhku sambil menyalakan sebatang rokok. Ada getir yang mengalir ketika aku memaksa berpikir kata apa yang sebaiknya bergulir. Pertanyaan apa yang kira-kira bisa membuat kenyamanan itu hadir.

“Lima tahun dari saat pertama kamu datang ke sini ya. Pernah sekali datang lagi dan setelah itu kita benar-benar berjarak. Apa ada yang berubah?” kamu menemukan pertanyaan lebih cepat.

“Apanya?”

“Semuanya,” jawabmu sambil menangkap titik mataku dengan senyum kecil. Rasanya ingin menjawab ‘tidak’ ketika tahu kalau mata itu masih teduh dan punya daya bunuh, masi bening yang selalu menggilas hening, tapi aku mengerti apa yang kau maksud dengan ‘semuanya’.

“Ada yang berubah, ada yang tidak. Kota ini masih sama dingin, kamu masih tetap ramah, tapi perasaan antara kita sudah berubah,”

“Yakin?” pertanyaan itu seperti desing peluru yang menerobos beku. Menggoda dengan senyum yang masih rancu.

“Yakin lah,” aku tertawa dan kemudian kamu pun juga.

“Dulu kita sering bercerita tentang diri masing-masing yang ternyata tidak jauh beda. Kamu mengalami apa yang terjadi padaku dan sebaliknya. Rasanya senang punya teman yang bisa mengerti,” kamu berkata sambil menatap cangkir dan memainkan tanganmu di meja. Tak sekali pun saat kalimat ini terucap, kita saling melekatkan tatap.

“Sampai sekarang masih sering sedih karena itu?”  aku yakin kamu mengerti tanpa harus kujelaskan lebih jauh. Rahasia yang sering memaksamu untuk sedih atau marah tidak ubahnya dengan alasanku untu merasakan itu.

“Kadang masih,” kamu belum juga mengalirkan tatap. “Lalu, kenapa tiba-tiba meminta bertemu?”

Aku diam. Ini pertanyaan yang tak bisa kutemukan jawabannya.  Kamu jelas tahu aku tak akan menjawab, atau kamu tentu mengerti jawabannya. Tapi kamu terlihat menunggu. Menunggu jawaban jujur yang tidak pernah sekalipun terlontar. Alasan jujur yang selama ini hanya bisa diterka lewat bahasa dan sikap yang tiba-tiba berubah. Kehadiran yang tiba-tiba selalu ada. Yang melahirkan duga sejak awal bertemu muka.

Warung kopi ini tiba-tiba terasa luas dengan munculnya kembali ingatan yang sempat redup. Kini semua yang tadinya tertutup kembali berongga, dari rongga kemudian ia menganga, hingga akhirnya terbuka lebar menyesaki seluruh sudut ruang nyata dan di tengahnya kita terhimpit dengan kejanggalan jika semakin dibicarakan. Kejanggalan yang pernah kita tinggalkan ketika semua rasa sepakat untuk dilupakan. Toh, akhirnya kita masing-masing menemukan sosok lain yang menerangi meski kejanggalan akan tetap menghantui jika gerik lama kita beri peran lagi.

“Kota ini tidak berubah ya. Masih sejuk untuk didatangi,” aku berdoa semoga kata-kata itu membelokkan keinginanmu untuk menggoda kejujuranku.

“Iya, masih sama seperti yang sering kamu tulis di tiap tulisanmu. Tulisanmu yang selalu tentangku,” jawabmu ringan sambil mengandaskan kopi di cangkirmu.

“Hahahah kenapa masih dibahas sih?”

“Hahaha tiba-tiba mengingat yang sudah lewat jadi kelewat seru malam ini”

Hening dan kejanggalan itu akhirnya melahirkan tawa lagi. Kita berbincang lebih banyak lagi tentang semua hal. Di luar hujan masih berima mengeja manja tanah yang basah. Di sini kita saling bersulang nostalgi, tawa, hingga alasan yang dicari-cari untuk menahan satu sama lain pergi. Di antara kita dan hujan di luar ada sesuatu yang tak kuasa meretas janji, yang akhirnya tumbang tertahan di dalam hati.

“Iya,” kata itu terlontar tiba-tiba dari mulut ini.

“Iya apa?” kamu mengernyitkan dahi.

“Untuk semua dugaan dan pertanyaanmu tentang apa yang terjadi dulu, jawabannya iya,” jawabku. Entah kenapa rasanya lega. Satu kata itu melontarkan pita yang mengikat dada. Terlebih setelah itu mata kita bertemu lama. Pertemuan yang akhirnya meluruhkan rindu pada tatap yang sama. Yang dulu banyak melahirkan cerita. Yang dulu menjadi alasan untuk menginjakkan kaki di tempat ini dengan mata yang masih buta. Yang kini masih sedikit terasa sama.

“Akhirnya ya..” kamu tertawa terbahak-bahak. Aku mungkin tampak bodoh kali ini. Belum selesai dengan perasaan malu, kamu bertanya lagi, “Kalau sekarang?”

“Sekarang beda. Masing-masing kita punya sosok lain yang menggantikan peran lama,”

“Yakin?” Kamu tertawa lagi, aku pun juga. Di tengah leburnya suasana, sesosok anak perempuan kecil dengan mata yang teduh dan senyum yang kecil berlari menghampirimu. Kamu memeluk anak perempuan itu dengan manis. Kamu dan dia tersenyum sama manis. Mata itu jelas matamu, senyum itu jelas milikmu. Lalu seorang pria menghampirimu dan tersenyum sopan ke arahku. Setelah berjabat untuk mengenal, kamu berlalu dengan anak perempuan dan laki-laki itu.

Aku merapatkan jaketku, menyalakan sebatang rokok lagi.

“Mungkin,” kata itu terlontar hampir tanpa suara dari mulutku.

Di luar hujan tandas, aku pun bergegas sambil menyusun ingatan tentangmu yang kembali membekas.

*) we're here, just in case you don't know what you're reading now  

No comments:

Post a Comment