![]() |
| model: Cindy Pratama |
Angin tidak pernah salah mengantarkan kita kemana dan bertemu siapa. Meski tak punya mata, angin punya rasa atau mungkin kehendak yang menjadikan segalanya bisa diraba. Ketika yang dikehendakinya hadir dan telah terbawa, angin juga yang punya kehendak untuk membawanya pergi. Meski pada akhirnya kepergian itu berujung entah. Entah dengan atau tanpa meninggalkan rasa.
Sesaat lalu kita menjadi hal yang diantarkan angin untuk saling bertemu. Saling menjebak diri dalam ketiba-tibaan dan pertanyaan bagaimana bisa. Sesaat lalu kita menjadi hal yang lucu dan kikuk ketika mulai mengalir basa-basi yang disengaja membuka nuansa. Siang di pantai itu merekah, kita tak juga bisa menerka. Sesaat lalu kita terus mengiyakan saja semua keraguan yang muncul setengah-setengah, ragu yang kalah oleh rasa nyaman yang tiba-tiba. Acuhkan semua dan kita murni bahagia. Meski akhirnya kita jugalah yang menjadi hal yang dipisahkan angin. Yang akhirnya mendiamkan diri mencoba menetralkan perasaan agar bisa kembali seperti mulanya.
Kamu datang tiba-tiba mengagetkan lamun yang kedap cerita. Yang setelahnya membawa lamun baru yang tak berkesudahan. Lamun baru yang berisi siangmu. Yang ikut merekat erat ketika raga tak lagi mendekat.
Kita berpisah. Kamu pulang, aku pulang, dan kita tak lagi disatukan dekat. Seperti ingin selalu bermain dengan teka-teki kita sepakat untuk tak menyimpan segala hal yang membuat kita merencanakan pertemuan lagi.
*) we're here, just in case you don't know what you're reading now

No comments:
Post a Comment