Saturday, 6 April 2013

Lima

model: Faizatin Nikmah

Yang pertama datang saat malam hari masih berpori basah karena seharian diterpa hujan yang kokoh. Begitu kokoh seolah senja tak juga mau roboh ketika mulai menapaki penghujungnya. Namun malam tak pernah ceroboh, Ia tau kini adalah waktu baginya untuk mengambil alih peranan. Senja takluk, dan malam resmi memeluk.

Di antara genangan air yang basah di jalan, ada kaki kita yang berdekatan dan tangan dalam genggaman. Satu tahun telah dituntaskan dan bahagia sedang meluapkan dirinya dalam terpaan. Janji diumbar. Menuju entah. Padahal manusia hanya bisa berencana tanpa ada daya untuk menentukan. Tapi kita bukan manusia saat itu. Kita adalah malaikat yang kesurupan setan yang paling bahagia. Lupa dan buta. Kamu menyerahkan tangkai yang pertama. Mawar yang klise namun amat berwarna. Karena hati di dalam sedang bermekaran rasa. Satu tahun kita resmi bersama.

Yang kedua datang ketika pagi menari-nari. Lekuknya lincah. Matahari di atas merekah rona dunia. Kamu datang tanpa duga. Sebuah kejutan kemudian hadir ketika daun-daun di jalan masih berantakan sisa diporak-porandakan angin semalaman. Kejutan itu tanpa pita tapi warnanya sama. Merah dan masih merekah. Ketika berpindah tangan, senyum yang tersungging di muka pun masih serupa dengan yang lama. Dua tahun, mawar dan rasa ini masih juga sama.

Tahun berikutnya masih pengulangan. Kita saling menjalani peran bahagia yang tak berkesudahan walau beberapa kali ada pertengkaran. Kita bergelut dengan kegoisan dan kebosanan yang muncul sesekali di tengah keinginan untuk mempertahankan kebersamaan yang tetap kuat. Tapi peluk tetap berjatuhan, rasa masih tak terelakan, genggaman masih menyatukan, dan dengan mawar yang ketiga di tahun ketiga kita masih tetap tak terpisahkan.

Yang keempat muncul dengan kebanggaan ketika bilangan yang disebut pun bukan lagi bilangan yang sedikit. Kita merasa saling mengenal dan memahami kehendak Tuhan ketika menyusupkan hati di balik rongga-rongga ragamu. Seolah kita tahu kemana ia akan bergerak. Kita bisa menerka keinginan satu sama lain dengan intuisi yang layaknya sudah terikat pasti. Masih di antara keributan kecil, masih di antara kejenuhan yang tak berhenti tampil, kita masih merayakan waktu ini. Tahun keempat, kau sodorkan lagi mawar yang mulai tak jelas apakah membuat kita renggang atau makin merapat.

Tahun kelima juga sama. Kau memberi bunga yang paling kusuka. Warna yang paling simbolis untuk kisah-kisah yang manis. Namun apa yang terjadi ternyata miris. Keyakinan dan kenyamanan yang awalnya terbangun sederhana dan penuh bunga kini terasa sedikit bisa dipertanyakan. Kamu tetap memberikan tangkai kelima di tahun kelima ini, namun ada jarak yang tampaknya tidak bisa terisi oleh bunga dan kejutan apapun ketika perlahan kamu menjauh. Di tahun kelima kita, perasaan saling memiliki dan janji untuk selalu ada mulai memudar sirna. Rasanya sulit mencari kamu di mana ketika yang bisa kutemukan adalah penolakan untuk melanjutkan yang sudah sejauh ini kita lakukan. Tahun kelima mawar tetap datang, tapi tidak melegakan.

Lewat tahun kelima, semua makin berantakan. Kamu di sana tak lagi mampu membuktikan ucapan, aku di sini tidak lagi berhias kesabaran. Kita tak lagi saling mempertahankan. Hari ini adalah tanggal yang sama seperti saat mawar-mawar berdatangan di tahun-tahun sebelumnya. Hari ini adalah waktu yang sama seperti semua bahagia dan harapan yang kita ikrarkan ketika masih ada harapan yang di selipkan agar semua lebih baik. Namun hari ini, ketika pagi, siang, senja, hingga malam tidak lagi ada penantian. Hanya berujung pada perenungan tanpa mengharapkan mawar lain diberikan. Pagi hingga senja di hari ini, di tahun keenam, mawar hanya sebuah hal yang teramat lirih untuk diingini, dan kamu adalah penggalan yang teramat perih untuk saat ini.

*) we're here, just in case you don't know what you're reading now

No comments:

Post a Comment