![]() |
| model: Faizatin Nikmah |
Yang pertama datang saat malam hari masih berpori basah
karena seharian diterpa hujan yang kokoh. Begitu kokoh seolah senja tak juga
mau roboh ketika mulai menapaki penghujungnya. Namun malam tak pernah ceroboh,
Ia tau kini adalah waktu baginya untuk mengambil alih peranan. Senja takluk,
dan malam resmi memeluk.
Di antara genangan air yang basah di jalan, ada kaki kita
yang berdekatan dan tangan dalam genggaman. Satu tahun telah dituntaskan dan
bahagia sedang meluapkan dirinya dalam terpaan. Janji diumbar. Menuju entah.
Padahal manusia hanya bisa berencana tanpa ada daya untuk menentukan. Tapi kita
bukan manusia saat itu. Kita adalah malaikat yang kesurupan setan yang paling
bahagia. Lupa dan buta. Kamu menyerahkan tangkai yang pertama. Mawar yang klise
namun amat berwarna. Karena hati di dalam sedang bermekaran rasa. Satu tahun
kita resmi bersama.
Yang kedua datang ketika pagi menari-nari. Lekuknya lincah.
Matahari di atas merekah rona dunia. Kamu datang tanpa duga. Sebuah kejutan
kemudian hadir ketika daun-daun di jalan masih berantakan sisa
diporak-porandakan angin semalaman. Kejutan itu tanpa pita tapi warnanya sama.
Merah dan masih merekah. Ketika berpindah tangan, senyum yang tersungging di
muka pun masih serupa dengan yang lama. Dua tahun, mawar dan rasa ini masih
juga sama.
Tahun berikutnya masih pengulangan. Kita saling menjalani
peran bahagia yang tak berkesudahan walau beberapa kali ada pertengkaran. Kita
bergelut dengan kegoisan dan kebosanan yang muncul sesekali di tengah keinginan
untuk mempertahankan kebersamaan yang tetap kuat. Tapi peluk tetap berjatuhan,
rasa masih tak terelakan, genggaman masih menyatukan, dan dengan mawar yang
ketiga di tahun ketiga kita masih tetap tak terpisahkan.
Yang keempat muncul dengan kebanggaan ketika bilangan yang
disebut pun bukan lagi bilangan yang sedikit. Kita merasa saling mengenal dan
memahami kehendak Tuhan ketika menyusupkan hati di balik rongga-rongga ragamu.
Seolah kita tahu kemana ia akan bergerak. Kita bisa menerka keinginan satu sama
lain dengan intuisi yang layaknya sudah terikat pasti. Masih di antara
keributan kecil, masih di antara kejenuhan yang tak berhenti tampil, kita masih
merayakan waktu ini. Tahun keempat, kau sodorkan lagi mawar yang mulai tak
jelas apakah membuat kita renggang atau makin merapat.
Tahun kelima juga sama. Kau memberi bunga yang paling
kusuka. Warna yang paling simbolis untuk kisah-kisah yang manis. Namun apa yang
terjadi ternyata miris. Keyakinan dan kenyamanan yang awalnya terbangun
sederhana dan penuh bunga kini terasa sedikit bisa dipertanyakan. Kamu tetap
memberikan tangkai kelima di tahun kelima ini, namun ada jarak yang tampaknya
tidak bisa terisi oleh bunga dan kejutan apapun ketika perlahan kamu menjauh.
Di tahun kelima kita, perasaan saling memiliki dan janji untuk selalu ada mulai
memudar sirna. Rasanya sulit mencari kamu di mana ketika yang bisa kutemukan
adalah penolakan untuk melanjutkan yang sudah sejauh ini kita lakukan. Tahun kelima mawar tetap datang, tapi tidak
melegakan.
Lewat tahun kelima, semua makin berantakan. Kamu di sana tak
lagi mampu membuktikan ucapan, aku di sini tidak lagi berhias kesabaran. Kita
tak lagi saling mempertahankan. Hari ini adalah tanggal yang sama seperti saat
mawar-mawar berdatangan di tahun-tahun sebelumnya. Hari ini adalah waktu yang
sama seperti semua bahagia dan harapan yang kita ikrarkan ketika masih ada
harapan yang di selipkan agar semua lebih baik. Namun hari ini, ketika pagi,
siang, senja, hingga malam tidak lagi ada penantian. Hanya berujung pada
perenungan tanpa mengharapkan mawar lain diberikan. Pagi hingga senja di hari
ini, di tahun keenam, mawar hanya sebuah hal yang teramat lirih untuk diingini,
dan kamu adalah penggalan yang teramat perih untuk saat ini.
*) we're here, just in case you don't know what you're reading now
*) we're here, just in case you don't know what you're reading now

No comments:
Post a Comment