Showing posts with label sketsa. Show all posts
Showing posts with label sketsa. Show all posts

Tuesday, 9 April 2013

Pulang



"Yang pergi sebelas tahun silam bukan kamu. Lebih dari itu aku pun lenyap. Meski kita tidak pernah sepakat lenyap adalah ketika teman sepertimu tidak bisa lebih lama berteman dengan hidup. Dengan usiamu yang lebih tua, kamu juga menjadi saudara. Aku lebih muda, bodoh, dan teramat membutuhkanmu. Tanpa pernah tahu di ujung waktu, kamu sedang sibuk menahan ronta.

Siapa juga yang bisa tahu jika senyum dan ceriamu tidak pernah terlihat pucat? Kamu yang tampak adalah kamu yang akan bertahan keras menginjaki sakit. Kamu yang tampak adalah kamu yang tidak pernah kehabisan cara menebar semangat lewat senyum yang putih. Meski dalam darahmu, putih sedang menyiksa. Kamu merasa, dan aku yang tidak pernah tahu yang sedang kamu rasa hanya bisa menyangka kamu bahagia. Kamu tetap terlihat riang dengan seragam merah putihmu di setiap siang.

Hari itu, yang aku tahu kamu tetap tersenyum. Hari itu, yang aku tahu kamu masih menebar pedulimu pada sekitarmu. Hari itu, yang aku tahu kamu bergegas pulang lebih cepat dari biasanya. Tak ada lebih dari yang aku tahu. Seperti akhirnya aku tidak pernah tahu, pulangmu yang lebih cepat hari itu memanglah terlalu cepat.

Kamu pulang, aku menjadi hilang.."

Aku menutup catatanku di usiaku yang sekarang. Catatan yang terlampau silam untuk dikenang. Teman sepertimu terlalu cepat pulang. Senyum seperti milikmu terlalu dini meremang. Dulu sontak ada tangis anak kecil dari sosok yang ditinggal hilang. Kini tidak, dewasa telah melahirkan malu untuk menangis meski dunia yang memberat tak menghalangi juga untuk mengenang. Tapi sketsa hari itu, sebelas tahun lalu, saat kamu pulang lebih cepat dari sekolah, selalu menjadi alasan bagi dewasa untuk tidak pernah bisa mengeringkan mata yang detik ini menggenang.


Novita Sari
(1990-2002)

 *) we're here, just in case you don't know what you're reading now   

Saturday, 6 April 2013

Terlambat

 
model: Mutiara Ramadhani

"Menarilah di waktu-waktu petang beranjak datang, dan biarkan sesekali kulitmu kebingungan memantulkan warna langit dan terjebak di antara jinga megah yang kemerahan. Kemudian berjalanlah dan jangan menyandarkan kakimu pada keraguan. Aku akan tetap di sini sampai senja jingga itu berangsur menggelap. Datang saja bawa keyakinanmu. Jangan terlambat karena kau sudah teramat telat."

Itu menjadi kalimatmu yang mempercepatku bergegas membungkus keyakinan yang kamu anggap telat. Memang telat ketika hatimu telah merapat. Memang telat dan terlalu memalukan untuk masih saja berharap. Namun kamu tetap kamu. Membagi harapan yang berujung pada terka yang melangitkan prasangka. Sudah sekian lama aku berkutat pada pusaran yang sama tanpa jelas arah.

Kini aku di ujung pengharapan sementara kamu masih membuka hati untuk menyediakan penantian. Walau sebentar, penantian tetaplah penantian. Meski entah apa yang akan kita dapat dari pertemuan di seberang penantian ini. Bukankah segalanya sudah pasti, kamu telah dimiliki dan aku sudah terlambat untuk bertanya lagi?

Senja dan malam mungkin waktu yang singkat dan rapat, tapi menjadi terlalu dekat ketika hujan merangkul erat. Aku bisa saja menembus tirai air langit ini demi menghampirimu tapi apalah perlunya jika aku hanya akan menjemput basa-basi penolakan dan pernyataan menyalahkanku yang butuh lama untuk mengikatmu. Ucapanmu yang malah akan membuatku bertambah gerah. Kamu sendiri yang mengungkit ini lagi saat semua sudah terkunci dalam-dalam meski tak pernah mati.

Hujan turun saja terus begitu, di dalam diri ragu berkutat melulu. Antara ingin mengejar dan perasaan terlanjur terkapar menampar-nampar sosok yang belum sepenuhnya sadar. Seharusnya ini masalah muda, lupakan dan tutup pintu untuk celah apapun yang kau buka. Cukup.

Tapi tidak pernah benar-benar semudah itu. Kaki ini memang sudah malas menghampiri tapi ada ruang yang jauh di dalam yang masih sepi dan hanya akan terisi dengan hadirmu. Ini mulai memuakkan, aku tak mau jatuh sedalam ini. Aku tidak mau berkata jujur seterlambat ini.

aku putuskan untuk menyerah ketika malam datang di tengah hujan yang masih berenda. Ini petunjuk Tuhan. Aku meyakini Tuhan memang tak ingin kita melanjutkan rasa. Hujan tak juga henti, oleh malam petang dihabisi, dan kamu di sana pasti sudah pergi. Aku terlambat, dan memang tidak sepantasnya berharap lebih nekat. Cukup.

***

22.00

Hujan akhirnya reda, kamu akhirnya kalah. Kamu takut bertaruh hanya karena keterlambatanmu padahal aku bertaruh dengan pendirianku. Kamu memang terlambat, tapi aku masih menunggu kamu berbuat nekat. Hingga malam meninggi, meski aku sudah tak seharusnya di sini, masih ada ruang yang diam-diam sepi dan hanya bisa terisi oleh hadirmu. Hadirmu yang kalah oleh waktu dan keberanianmu. Kini semua cukup. aku akan kembali pada hidupku dengan yang lain. Yang datang lebih cepat darimu. Dirimu yang sejak dulu tidak pernah berani jujur telah kalah oleh orang yang tak takut menegur.

Kamu kalah bukan oleh keterlambatanmu, kamu kalah karena kamu pengecut.

*) we're here, just in case you don't know what you're reading now   

Mata Kota

model: Rizka Zahra Tamira


Yang menarik dari matanya adalah ketika terisi lamunan di tiap penjuru liriknya. Seolah mengacak-acak gerik lewat tatapan yang tidak terlalu mengusik. Apapun yang berada di titik tatapnya tidak akan menemukan tempat untuk lari, semua terkunci meski diam-diam dan semakin lama semakin terasa menikmati. Kali ini mata itu menangkap hujan yang deras di luar warung kopi ini. Meresap basah sambil menikmati aroma petrichor yang menyengat dari tanah yang lembab. Di antara itu semua, kita saling mencoba untuk beradaptasi dengan debar dalam diri. Butuh beberapa menit sebelum akhirnya menjadi biasa lagi dan menetralkan diri di tengah gelisah yang menjadi. Sebelum akhirnya sadar jika malam sudah semakin tinggi meski belum ingin juga diakhiri.

“Berapa lama?” tanyanya.

“Lima tahun,” jawabku sambil tertawa.

“Hahaha lima tahun ya.. rasanya baru kemarin,” Ia balas tertawa sambil kemudian meminum kopi di cangkirnya. Ditaruhnya kembali cangkir itu dan kemudian diambil lagi pensilnya. Ia melanjutkan lagi gambar garis-garis kaku itu di kertasnya. Mengukur sana-sini, mencoret lagi, dan terus begitu yang Ia lakukan.

“Iya rasanya baru kemarin, kamu masih sibuk sama perangkat tulismu itu juga ya”

“Iya, bedanya sekarang dibayar tiap ngerjain ini, dulu kan mati-matian biar lulus doang,” ujarmu sambil tersenyum di balik garis-garis yang muncul dari pensilmu, di atas kertasmu. Seperti biasa dalam beberapa jam ke depan, dalam cangkir kopi ke sekian, di atas kertas itu akan tercipta sebuah gambar lanskap yang bagus.

“Yang ini apa?” aku bertanya.

“Taman nih. Untuk perumahan gitu,” kamu menjawab sambil menyeruput lagi cangkir kopimu. 

Kemudian hening mengambil peran seolah membalas hujan yang belum mau turun pelan-pelan. Aku masih menunggu kamu yang tampak tak ingin diganggu. Menunggu kalimat demi kalimat lain mengisi kekosongan yang makin terasa dungu. Seperti dulu kala mula bertemu, kita pun saling menunggu. Aku menunggu datangmu, setelah datangmu ada, aku menunggu namamu. Kemudian setelah namamu ku tahu, aku menunggu waktumu. Waktu untuk dihabiskan sambil aku menghabiskan waktu di kotamu. Namun sayang jarang lagi kita bertemu.

Akhirnya kamu menyerah dengan gambarmu. Kamu masukan semua peralatan itu lagi dan menyeruput kopimu lagi. Belum dapet inspirasi, begitu katamu. Aku merapatkan jaket jeans yang melekat di tubuhku sambil menyalakan sebatang rokok. Ada getir yang mengalir ketika aku memaksa berpikir kata apa yang sebaiknya bergulir. Pertanyaan apa yang kira-kira bisa membuat kenyamanan itu hadir.

“Lima tahun dari saat pertama kamu datang ke sini ya. Pernah sekali datang lagi dan setelah itu kita benar-benar berjarak. Apa ada yang berubah?” kamu menemukan pertanyaan lebih cepat.

“Apanya?”

“Semuanya,” jawabmu sambil menangkap titik mataku dengan senyum kecil. Rasanya ingin menjawab ‘tidak’ ketika tahu kalau mata itu masih teduh dan punya daya bunuh, masi bening yang selalu menggilas hening, tapi aku mengerti apa yang kau maksud dengan ‘semuanya’.

“Ada yang berubah, ada yang tidak. Kota ini masih sama dingin, kamu masih tetap ramah, tapi perasaan antara kita sudah berubah,”

“Yakin?” pertanyaan itu seperti desing peluru yang menerobos beku. Menggoda dengan senyum yang masih rancu.

“Yakin lah,” aku tertawa dan kemudian kamu pun juga.

“Dulu kita sering bercerita tentang diri masing-masing yang ternyata tidak jauh beda. Kamu mengalami apa yang terjadi padaku dan sebaliknya. Rasanya senang punya teman yang bisa mengerti,” kamu berkata sambil menatap cangkir dan memainkan tanganmu di meja. Tak sekali pun saat kalimat ini terucap, kita saling melekatkan tatap.

“Sampai sekarang masih sering sedih karena itu?”  aku yakin kamu mengerti tanpa harus kujelaskan lebih jauh. Rahasia yang sering memaksamu untuk sedih atau marah tidak ubahnya dengan alasanku untu merasakan itu.

“Kadang masih,” kamu belum juga mengalirkan tatap. “Lalu, kenapa tiba-tiba meminta bertemu?”

Aku diam. Ini pertanyaan yang tak bisa kutemukan jawabannya.  Kamu jelas tahu aku tak akan menjawab, atau kamu tentu mengerti jawabannya. Tapi kamu terlihat menunggu. Menunggu jawaban jujur yang tidak pernah sekalipun terlontar. Alasan jujur yang selama ini hanya bisa diterka lewat bahasa dan sikap yang tiba-tiba berubah. Kehadiran yang tiba-tiba selalu ada. Yang melahirkan duga sejak awal bertemu muka.

Warung kopi ini tiba-tiba terasa luas dengan munculnya kembali ingatan yang sempat redup. Kini semua yang tadinya tertutup kembali berongga, dari rongga kemudian ia menganga, hingga akhirnya terbuka lebar menyesaki seluruh sudut ruang nyata dan di tengahnya kita terhimpit dengan kejanggalan jika semakin dibicarakan. Kejanggalan yang pernah kita tinggalkan ketika semua rasa sepakat untuk dilupakan. Toh, akhirnya kita masing-masing menemukan sosok lain yang menerangi meski kejanggalan akan tetap menghantui jika gerik lama kita beri peran lagi.

“Kota ini tidak berubah ya. Masih sejuk untuk didatangi,” aku berdoa semoga kata-kata itu membelokkan keinginanmu untuk menggoda kejujuranku.

“Iya, masih sama seperti yang sering kamu tulis di tiap tulisanmu. Tulisanmu yang selalu tentangku,” jawabmu ringan sambil mengandaskan kopi di cangkirmu.

“Hahahah kenapa masih dibahas sih?”

“Hahaha tiba-tiba mengingat yang sudah lewat jadi kelewat seru malam ini”

Hening dan kejanggalan itu akhirnya melahirkan tawa lagi. Kita berbincang lebih banyak lagi tentang semua hal. Di luar hujan masih berima mengeja manja tanah yang basah. Di sini kita saling bersulang nostalgi, tawa, hingga alasan yang dicari-cari untuk menahan satu sama lain pergi. Di antara kita dan hujan di luar ada sesuatu yang tak kuasa meretas janji, yang akhirnya tumbang tertahan di dalam hati.

“Iya,” kata itu terlontar tiba-tiba dari mulut ini.

“Iya apa?” kamu mengernyitkan dahi.

“Untuk semua dugaan dan pertanyaanmu tentang apa yang terjadi dulu, jawabannya iya,” jawabku. Entah kenapa rasanya lega. Satu kata itu melontarkan pita yang mengikat dada. Terlebih setelah itu mata kita bertemu lama. Pertemuan yang akhirnya meluruhkan rindu pada tatap yang sama. Yang dulu banyak melahirkan cerita. Yang dulu menjadi alasan untuk menginjakkan kaki di tempat ini dengan mata yang masih buta. Yang kini masih sedikit terasa sama.

“Akhirnya ya..” kamu tertawa terbahak-bahak. Aku mungkin tampak bodoh kali ini. Belum selesai dengan perasaan malu, kamu bertanya lagi, “Kalau sekarang?”

“Sekarang beda. Masing-masing kita punya sosok lain yang menggantikan peran lama,”

“Yakin?” Kamu tertawa lagi, aku pun juga. Di tengah leburnya suasana, sesosok anak perempuan kecil dengan mata yang teduh dan senyum yang kecil berlari menghampirimu. Kamu memeluk anak perempuan itu dengan manis. Kamu dan dia tersenyum sama manis. Mata itu jelas matamu, senyum itu jelas milikmu. Lalu seorang pria menghampirimu dan tersenyum sopan ke arahku. Setelah berjabat untuk mengenal, kamu berlalu dengan anak perempuan dan laki-laki itu.

Aku merapatkan jaketku, menyalakan sebatang rokok lagi.

“Mungkin,” kata itu terlontar hampir tanpa suara dari mulutku.

Di luar hujan tandas, aku pun bergegas sambil menyusun ingatan tentangmu yang kembali membekas.

*) we're here, just in case you don't know what you're reading now  

Lima

model: Faizatin Nikmah

Yang pertama datang saat malam hari masih berpori basah karena seharian diterpa hujan yang kokoh. Begitu kokoh seolah senja tak juga mau roboh ketika mulai menapaki penghujungnya. Namun malam tak pernah ceroboh, Ia tau kini adalah waktu baginya untuk mengambil alih peranan. Senja takluk, dan malam resmi memeluk.

Di antara genangan air yang basah di jalan, ada kaki kita yang berdekatan dan tangan dalam genggaman. Satu tahun telah dituntaskan dan bahagia sedang meluapkan dirinya dalam terpaan. Janji diumbar. Menuju entah. Padahal manusia hanya bisa berencana tanpa ada daya untuk menentukan. Tapi kita bukan manusia saat itu. Kita adalah malaikat yang kesurupan setan yang paling bahagia. Lupa dan buta. Kamu menyerahkan tangkai yang pertama. Mawar yang klise namun amat berwarna. Karena hati di dalam sedang bermekaran rasa. Satu tahun kita resmi bersama.

Yang kedua datang ketika pagi menari-nari. Lekuknya lincah. Matahari di atas merekah rona dunia. Kamu datang tanpa duga. Sebuah kejutan kemudian hadir ketika daun-daun di jalan masih berantakan sisa diporak-porandakan angin semalaman. Kejutan itu tanpa pita tapi warnanya sama. Merah dan masih merekah. Ketika berpindah tangan, senyum yang tersungging di muka pun masih serupa dengan yang lama. Dua tahun, mawar dan rasa ini masih juga sama.

Tahun berikutnya masih pengulangan. Kita saling menjalani peran bahagia yang tak berkesudahan walau beberapa kali ada pertengkaran. Kita bergelut dengan kegoisan dan kebosanan yang muncul sesekali di tengah keinginan untuk mempertahankan kebersamaan yang tetap kuat. Tapi peluk tetap berjatuhan, rasa masih tak terelakan, genggaman masih menyatukan, dan dengan mawar yang ketiga di tahun ketiga kita masih tetap tak terpisahkan.

Yang keempat muncul dengan kebanggaan ketika bilangan yang disebut pun bukan lagi bilangan yang sedikit. Kita merasa saling mengenal dan memahami kehendak Tuhan ketika menyusupkan hati di balik rongga-rongga ragamu. Seolah kita tahu kemana ia akan bergerak. Kita bisa menerka keinginan satu sama lain dengan intuisi yang layaknya sudah terikat pasti. Masih di antara keributan kecil, masih di antara kejenuhan yang tak berhenti tampil, kita masih merayakan waktu ini. Tahun keempat, kau sodorkan lagi mawar yang mulai tak jelas apakah membuat kita renggang atau makin merapat.

Tahun kelima juga sama. Kau memberi bunga yang paling kusuka. Warna yang paling simbolis untuk kisah-kisah yang manis. Namun apa yang terjadi ternyata miris. Keyakinan dan kenyamanan yang awalnya terbangun sederhana dan penuh bunga kini terasa sedikit bisa dipertanyakan. Kamu tetap memberikan tangkai kelima di tahun kelima ini, namun ada jarak yang tampaknya tidak bisa terisi oleh bunga dan kejutan apapun ketika perlahan kamu menjauh. Di tahun kelima kita, perasaan saling memiliki dan janji untuk selalu ada mulai memudar sirna. Rasanya sulit mencari kamu di mana ketika yang bisa kutemukan adalah penolakan untuk melanjutkan yang sudah sejauh ini kita lakukan. Tahun kelima mawar tetap datang, tapi tidak melegakan.

Lewat tahun kelima, semua makin berantakan. Kamu di sana tak lagi mampu membuktikan ucapan, aku di sini tidak lagi berhias kesabaran. Kita tak lagi saling mempertahankan. Hari ini adalah tanggal yang sama seperti saat mawar-mawar berdatangan di tahun-tahun sebelumnya. Hari ini adalah waktu yang sama seperti semua bahagia dan harapan yang kita ikrarkan ketika masih ada harapan yang di selipkan agar semua lebih baik. Namun hari ini, ketika pagi, siang, senja, hingga malam tidak lagi ada penantian. Hanya berujung pada perenungan tanpa mengharapkan mawar lain diberikan. Pagi hingga senja di hari ini, di tahun keenam, mawar hanya sebuah hal yang teramat lirih untuk diingini, dan kamu adalah penggalan yang teramat perih untuk saat ini.

*) we're here, just in case you don't know what you're reading now